Tradisi Bertakziyah : Definisi dan Dalilnya

Beberapa hari ini, keluarga besar perguruan Surya Buana Malang mengalami masa berkabung termasuk di SMA Surya Buana Malang. Kegiatan yang sudah menjadi budaya di SMA Surya Buana Malang adalah melaksanakan takziyah kepada bapak, ibu, guru karyawan serta siswa dan orang tua yang mendapatkan ujian dari Allah swt..

Istilah takziyah sudah biasa ditengah masyarakat kita, bahkan nilai-nilai tolong menolong sangat terlihat, lantas, bagaimana Islam mengajarkan tentang tradisi takziyah ini?

Dalam kamus Al-Munawwir karangan KH. Ahmad Warson Hal. 928 disebutkan, Takziyah berarti menghibur, menyatakan belasungkawa, menyampaikan duka cita, dan menyabarkan keluarga yang meninggal.

Syaikh Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar ab-Nawawiyyah hal. 121 mendefinisikan yang artinya “Ketahuilah, takziah hakikatnya adalah tashabbur (mengajak sabar), menyampaikan hal-hal yang dapat menghibur keluarga orang meninggal, meringankan kesedihannya, dan memudahkan urusan musibahnya. Hukum takziah sendiri adalah sunnah. 

Ia mencakup urusan amar makruf dan nahi. Ia juga termasuk ke dalam firman Allah, Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran, (QS. Al-Maidah [al-Maidah [5]: 2). Ayat ini merupakan dalil paling kuat dalam urusan takziah”

Dari dua definisi tersebut, dapat kita ambil beberap poin pengetahuan tentang takziyah :

  • Hukum Takziyah

Hukum Takziyah Adalah Sunnah, karena pada adasarnya orang bertakziyah adalah saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaaan,

Sebagaimana firman Allah swt. Dalam Q.S  Al-Maidah ayat 2, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”, dalam hadits rasullah saw bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya”, (HR. Abu Dawud).

  • Sebagai Media Memotivasi keluarga

Sudah menjadi tradisi ditengah masyarakat kita, bahwa tujuan utama bertakziyah adalah menghibur dan membesarkan hati keluarga Almarhum/ah. Dengan harapan shohibul Musibah mampu mengurangi kesedihan dan meringankan musibah keluarga yang ditinggalkan. 

Adapun cara mengurangi kesedihan dan meringankan musibah tentu bermacam-macam, mulai mendoakan (tahlil), membantu mengurus jenazah, menyiapkan keperluannya, hingga memberikan bantuan materi.

Sebab kebutuhan materi dalam pengurusan jenazah, terutama di zaman sekarang ini, tak lagi dapat dikesampingkan.

  • Medoakan dan memohon ampunan pada si Mayit/Jenazah

Sebagaimana diktehui, kebiasaan masyarakat dan umat Islam bahwa kedatanganya, bertakziyah selain menghibur adalah mendoakan keluarga yang ditinggalkan dan banyak sekali riwayat khusus tentang do’a-do’a untuk jenazah yang dibaca dalam sholat jenazah maupun diluar sholat jenazah. Seperti Allohummaghfirlahu warhamhu, 

Keutamaan bertakziah dapat kita lihat dalam beberapa hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, antara lain :

Hadis yang diriwayatkan Abdullah ibn Mas‘ud yang Artinya: “Siapa saja yang bertakziah kepada orang yang terkena musibah, maka dia akan mendapat pahala seperti orang yang mendapat musibah tersebut,” (HR. at-Tirmidzi dan al-Baihaqi).  

Abu Barzah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  yang artinya: “Siapa saja yang bertakziah kepada orang yang kehilangan putranya, maka dia akan diberikan pakaian keagungan di surga,” (HR. at-Tirmidzi).  

Dalam riwayat ‘Abdullah ibn ‘Umar, disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapati putrinya Siti Fathimah radhiyallahu anha keluar rumah, lantas ditanya, “Wahai Fathimah, apa yang membuatmu keluar rumah?” Siti Fathimah menjawab, “Aku mendatangi keluarga si mayit ini, kemudian memohonkan rahmat untuk mayit mereka, sekaligus menghibur mereka.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasai). 

Berdasarkan hadits ini, juga dapat ditarik kesimpulan bahwa kaum perempuan juga diperbolehkan bertakziah selama mampu menjaga batasan sehingga terhindar dari fitnah dan dosa-dosa yang lain.  

Sementara ‘Amr ibn Hazm meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“ Tidaklah seorang mukmin bertakziah sudaranya yang ditimpa musibah kecuali Allah akan mengenakan pakaian kemuliaan pada hari Kiamat”. (Ibnu Majah dan al-Baihaqi).
Dari beberapa dalil tersebut, sudah sangat tepat dan tidaklah menyalahi aturan syariat Islam, bahkan sangat dianjurkan dalam Islam tradisi bertakziyah, termasuk budaya mutu yang sudah dilaksanakan di SMA Surya Buana Malang. Allohu A’lam

Penulis : Ahmad Zain Fuad

1 comment

Leave a comment

Butuh Bantuan? Segera Hubungi