Isra Miraj dalam Perspektif Sains

 

INFO PPDB HOTLINE SMA Surya Buana Malang

 Isra’ Mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang terjadi di sepanjang sejarah peradaban manusia. Isra’ Mi’raj merupakan bentuk penghiburan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW karena di tahun yang sama, Nabi Muhammad SAW mendapat kesedihan karena ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Isra’ Mi’raj terdiri dari 2 peristiwa yang berbeda, yakni Isra’ Mi’raj. Isra’ dipandang sebagai perjalanan horizontal dan mi’raj dipandang sebagai perjalanan vertikal Rasulullah SAW.  

Menurut QS. Al-Isra’ ayat 1, Isra’ ialah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis) yang berada di Palestina pada suatu malam yang penuh berkah. Kronologi peristiwa Isra diawali dengan pembelahan dada Nabi Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril usai melaksanakan shalat Isya’. Malaikat Jibril mencucinya menggunakan air Zamzam kemudian menuangkan kedalamnya iman dan hikmah. Nabi Muhammad SAW kemudian mengendari Buraq dan sampailah di Baitul Maqdis hanya dalam waktu sekejap saja. Peristiwa ini lantas menyebabkan kontradiksi di masyarakat pada saat itu dan menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW hanya bermimpi. Pasalnya, perjalanan dari Mekkah ke Yarusalem yang berjarak kurang lebih 1200 km itu umumnya dapat ditempuh dalam waktu 11 hari menggunakan onta.

Setelah Isra, Nabi Muhammad SAW melakukan mi’raj bersama Malaikat Jibril. Dalam hadist diriwayatkan Nabi Muhammad SAW dipasangkan Mi’raj yang artinya tangga. Nabi Muhammad SAW bersama Malaikat Jibril naik menuju langit dengan tangga itu, bukan dengan Buroq sebagaimana Isra’.  Nabi Muhammad SAW melewati tingkatan langit bertemu dengan ruh para nabi dan sampailah di Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha artinya sebuah pohon bidara yang menandai akhir dari langit diatas langit ketujuh, serta sebuah batas dimana makhluk tidak dapat melewatinya. Puncak dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini adalah Rasulullah SAW menerima perintah Allah SWT menjalankan sholat wajib 5 waktu sehari semalam sebagai ibadah yang utama umat Islam.

Lalu, bagaimanakah peristiwa Isra’ Mi’raj dalam perspektif sains ?

Menurut Teori Relativitas Einstein, jagat raya kita ini dibatasi oleh dimensi ruang-waktu, yang terdiri dari 3 dimensi ruang dan 1 dimensi waktu. Dimensi ruang dan waktu tersebut saling berkaitan satu sama lain membentuk entitas baru yang disebut sebagai ruang waktu (space time).

Jika dilihat dari peristiwanya, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Isra’ dan Mi’raj bersama dengan Malaikat Jibril. Dijelaskan dalam QS. Al-Ma’arij : 4 “Naik malaikat dan ruh kepada-Nya dalam waktu sehari yang kadarnya 50.000 tahun”. Dari ayat ini didapatkan bahwasannya malaikat adalah makhluk langit yang berada pada dimensi yang lebih tinggi dari manusia. Serta, fenomena-fenomena yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW ketika melakukan Isra’ dan Mi’raj bukanlah fenomena-fenomena fisik, seperti bertemunya Rasulullah SAW dengan ruh para nabi, diperlihatkannya baitul makmur sebagai kiblat para penduduk langit, dan diperlihatkannya surga yang indah dari Sidratul Muntaha. Dimensi yang demikian sudah pasti berada pada dimensi yang lebih tinggi dari dimensi ruang-waktu jagat raya yang sifatnya fisik. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa perjalanan Isra’ wal mi’raj Nabi Muhammad SAW bukanlah perjalanan langit secara fisik, melainkan perjalanan keluar dimensi yang menembus batas ruang dan waktu. alam semesta.

Bagaimanakah hakikat tujuh lapisan langit dan Sidratul Muntaha dalam perspektif sains ?

Dari pengertian secara fisik, langit berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang berterbaran. 

Ungkapan tujuh dalam kalimat tujuh lapisan langit bukanlah angka tujuh dalam bilangan eksak. Di dalam Al-Qur’an, ungkapan tujuh banyak dijelaskan sebagai bilangan yang tak terhitung jumlahnya (QS. 2:261; QS.31:27). Begitu pula dengan langit dan Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra Miraj tidaklah memakai pengertian langit secara fisik, melainkan langit dalam hal ini berarti dimensi yang sangat tinggi. Tujuh Lapis langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah Isra’ Mi’raj adalah alam ghaib yang tidak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia.

Dalam perspektif sains, Isra’ Mi’raj hanya bisa diduga secara teoritis, namun tidak bisa dibuktikan secara empirik. Pendekatan sains dilakukan bertujuan untuk mendekatkan kita agar lebih memahami peristiwa Isra Miraj sebagai peristiwa yang harus diterima secara naqli dilandasi iman. Bagaimanapun ilmu manusia tak  mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan Isra Miraj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra-85).

*Tulisan ini ditulis oleh Ibu Aditya Wardani,S.Pd.(Guru FISIKA SMA Surya Buana Malang) dan disampaikan dalam seminar Isro’ Mi’roj dalam Perspektif Sains yang dilaksanakan oleh SMA Surya Buana Malang

INFO PPDB HOTLINE SMA Surya Buana Malang

Leave a comment

Butuh Bantuan? Segera Hubungi